Labbaik – Semut Pincang Naik Haji (Cerpen Lampung Post, 19 Okt 2014)

Perjalanan hidup tak terduga. Kita merencanakan yang terbaik saja. Tapi kita harus siap dengan yang berbeda. Kita punya peran kecil atas usaha. Peran terbesar adalah hal gaib dari indera. Yang terbaik dari rencana, adalah tak merencanakannya. Berjalan begitu saja.

Sahabatku, membisikkan kenikmatan, yang ia letakkan dalam pikiran. Ia ceritakan dirinya, bagai tokoh dalam roman, berbahagia tanpa derita, ceria tanpa muram durja. Cerita semacam itu, aku tahu tak pernah ada. Ia sembunyikan bagian sulit kisahnya, tak terbaca. Ia mengoceh sambil membayangkan, semua hadir tergambarkan pada layar besar di depan mata.

“Naik haji itu, asiknya lagi muda. Semua ibadah, rasanya ringan dan wangi dupa. Tiap langkah melayang pada tanah dan pelukan udara penuh cinta. Pada sebuah padang, cahaya berlapis cahaya menyinari kepala setiap hamba, datang dengan doa dalam pelukannya.”

Matanya dilapisi kaca tipis di permukaan. Pandangannya menguak apa yang di dada. Degup jantungnya berhamburan pada hamparan bunga.

“Tangis disana betapa nikmatnya. Kata-kata tak pernah ada. Pergumulan penuh cinta, tak pernah melahirkan luka. Hari kita terasa amat singkat saja. Bagai kencan pertama di bawah purnama.”

Ini rayuan luar biasa, lebih dahsyat dari rayuan pulau kelapa. Setiap kata mendentamkan dawai kesadaran debar nyanyian surga, menggoncangkan angklung yang melahirkan rangkaian indah nada.

Aku tak berani bermimpi. Nyaliku tak sebesar biji sawi. Sahabatku tak perlu berkata apa pun lagi, karena semua hal indah telah ia utarakan tanpa ampun.

Dadaku sesak terpendam. Aku menarik napas dalam. Aku lebih nestapa dari semut hitam yang berbaris di halaman. Mereka hidup damai, sejahtera dan berumah indah dalam tanah dengan kehangatan yang nyaman. Jelas sekali mereka tak punya hutang. Sedang aku memang lebih mirip semut pincang.

“Aku hanya berniat ya. Semoga semut pincang bisa memenuhi panggilan. Barangkali dengan numpang di lipatan baju orang.”

Ia tersenyum senang. Aku tersenyum lega. Ia tak akan lagi melontarkan rayuannya.

Aku lupa. Tingkat kelupaanku memang hina. Ada virus mengambil catatan dan menghapusnya. Tapi semesta punya cara menampar pelupa. Malaikat yang milyaran, mencatat semuanya. Sedang Tuhan tak pernah lupa.

-0-

Surabaya yang panas, aku tinggalkan. Sumatera, alangkah jauh terdengar di telinga, dan berkelebat hutan rimba dalam bayangan kepala. Adat budaya pasti berbeda. Makanan bakal tidak sama. Perpindahan adalah pelajaran baru, bagai  ganti bab cerita.

Surga di Lampung adalah wilayah kaya laut dan daratnya. Pasir putih terhampar di pantainya. Keindahan gunung dan pepohonan menyejukkan mata.

“Kita bisa dapat hikmah dari wisata. Pasti senang melihat tempat-tempat baru”, ujarku pada istriku, saat hujan sejuk menebar di depan rumah.

Kalimatku menggantung dalam gamang seperseribu detik. Jeda terbetik. Diam menguasai beranda, dalam angan yang memantik.

“Atau…. Kita beli rumah. Jadi tak perlu lagi menyewa…”

Tapi ia hanya diam. Matanya menatap tetes hujan pada tanah basah dan legam. Sepi menggelayuti, diketuki angin yang mengelam.

“Kita bisa pergi kemana pun atau membeli apa saja, asalkan..”

Matanya menatap kejauhan, di balik hujan.

“Asalkan.. Kita sudah naik haji dan bertamu ke tempat sang nabi..”

Kata-kata itu sembilu yang menyayat pilu. Tak perlu darah dari luka. Pedih sudah mendera. Sekelebat saja, aku terpaparkan niat yang aku lupa.

Malaikat mencatat. Lalu ia berjalan mendekat. Tapak tangannya cepat mendarat.

“Prak!”

Aku terkesiap. Pipiku merah, tapi hanya Gina saja yang terdekat.

-0-

“Labbaik! Aku datang!”

Tuhan memampukan yang terpanggil, bukan memanggil yang mampu. Orang makmur, belum tentu mau ke tanah suci bertamu. Aku, semut kecil pincang, menelisip lipatan dan memenuhi panggilan. Niat mustahil, mengantarku menemukan jalan.

Ini perjalanan yang dinanti. Tetapi, takdir membawaku pada situasi, terduduk di seberang penyelia perusahaan ini.

“Kamu mesti bersyukur telah dipercaya. Kamu bisa pindah ke Bangkok bulan depan.”

Terkesiap seluruh poriku mendengar ini.

“Apalah cerita ini? Semua seolah bakal mudah dijalani. Lalu kini, barikade setinggi tembok cina menghalangi.”

Aku tak bisa mengatur degup jantung sendiri. Darah bagai tsunami menerjang vena dan arteri. Aku menekan napas, agar dapat menahan emosi. Penyeliaku menanti. Aku terbata menyusun bunyi.

“Bila kepindahan aku terima, bolehkah aku berhaji?”

Aku bisa menduga jawabannya.

“Tidak mungkin. Kamu seperti karyawan baru. Cuti lebih dari sebulan, terlalu lama.”

Ini pilihan sulit. Kalimatnya bagai hook Mike Tyson di ulu hati yang terbuka. Sakit nian rasanya, terasa perih nan lama.

Aku memilih pindah lokasi. Pilihan basi, karena berarti kehilangan porsi. Aku tak tahu apa yang terjadi nanti. Aku ikuti naluri. Tapi boleh jadi, aku manusia besar ambisi. Aku tak bisa menilai diriku sendiri.

-0-

Minggu pagi di Masjid Islamic Center di Bangkok, aku mengaji bersama orang Indonesia lain. Pak Dedi bicarakan rencananya untuk berhaji.

“Siapa yang haji tahun ini dari sini? Katanya ada 6 orang?”

Teguh mendengarkan pembicaraan di KBRI kemarin.

“Belum jelas, Pak. KBRI menunggu calon lain. Minggu depan ada pertemuan.”

Telingaku menyimak ini. Haji masih bisa kualami. Ini info yang menggelorakan hati. Waktu berhaji hanya sebelas hari. Itu bisa memakai hak cuti pribadi. Debarku belum berhenti.

Aku mendaftar haji, yang kedua kali. Aku akan menemui takdirku di tanah suci.

-0-

Ramadhan itu, dua bulan sebelum haji yang ditunggu, saat berpuasa penuh rindu, aku kena straight Tyson langsung ke dagu. Perusahaan merombak struktur, dan mem-phk karyawan tanpa ragu.

Aku harus kembali ke Lampung. Ibarat permainan ular tangga, aku berhenti di kotak ekor ular, dan turun sampai kotak satu. Bibirku kelu. Otakku beku. Otot kakiku kaku. Cobalah merayuku saat itu. Kau akan temukan gunung es di ujung bumi utara penuh salju.

“Apakah izin cutiku masih berlaku?”, tanyaku setelah keputusan itu.

“Masih. Silakan digunakan. Mau kemana rencana kamu?”

Pertanyaan ini jadi masalah lain.

“Mungkin keliling Thailand.”

Jawaban itu yang terbersit di hati. Aku memang ke Bangkok, sebelum ke tanah suci.

“Selamat menikmati liburan ya…”

Aku tersenyum kaku. Tapi ia gagal mengerti senyuman itu.

-0-

Masalah saat ini adalah visa haji. Mereka mengurusnya tiga hari setelah idul fitri. Aku harus ke Lampung segera, tapi paspor akan tertahan urusan visa.

Ini wilayah Tuhan. Dialah yang bisa membuatku pergi atau tertahan. Mudah bagi-Nya melakukannya sekarang atau masa depan.

Saat aku di kantor mengatur kepindahan, HP ku menerima panggilan.

“Abi, agen haji tidak mengerti bagaimana. Visa haji, disetujui hanya sehari. Paspor bisa diambil di KBRI.”

Aku tak berkata lagi. Aku luluh lantak, menangis dan bersujud tak henti. Tak terkatakan lagi, tercekatnya tenggorokan ini. Aku tak mampu bicara, lantaran semua terjadi bagai mimpi.

Labbaik, aku datang. Semut pincang tanpa daya,  terundang. Aku pulang ke Lampung dengan hati riang.

-0-

Rencana terbaik adalah tak merencanakannya. Hari itu, aku akan pamit teman dan handai taulan semua. Lalu besok kami ke Jakarta. Lusa pagi, tiket Jakarta – Bangkok, telah ada. Tapi Tuhanlah pembuat rencana tiada tandingnya. Saat berangkat kerja, istriku telpon dan bicara.

“Abi, bandara Svarnabhum Bangkok, ditutup pendemo kuning. Penerbangan, tak bisa. Coba hubungi KBRI, soal rencana haji kita.”

Gedubrak! Itu yang terjadi. Aku jatuh dari kursi, ambrol setelah pantatku menduduki.

“Kemana jalan mesti dilalui, sedang tiap kelok menyimpan jebakan menipu diri.”

Eskalasi demo menyentuh bagian penting negara itu, bandara, jantung pemompa wisata.

Rencana damaiku, tak terjadi. Aku hubungi KBRI, dan menyimak saran yang diberikan pada kami.

“Calon jamaah di Bali, Hatyai dan Lampung, harap ke Bangkok. Jadwal berangkat belum pasti. Tapi semua harus kumpul disini.”

Aku mengerti. Tapi jalur manakah yang bisa ditempuh.

“Silakan lewat Hatyai, Phuket atau Krabi, via Singapur atau KL. Lanjut jalan darat ke Bangkok.”

Aku ke Jakarta hari itu juga, menginap semalam, dan berangkat ke KL besok pagi. Tiket KL lalu ke kota lain di Thailand, belum didapati. Semut pincang berjalan kembali, sekalipun tak jelas, akankah tiba di tanah suci.

Kami berangkat. Anakku bermain ayunan, dan menahan air mata. Tapi apalah arti kegagahan saat duka. Kami tinggalkan semua, dan menjalani hal yang tak pasti ujungnya.

Tiba di Jakarta malam, tak punya banyak pilihan. Loket tutup semua penerbangan. Tapi malaikat tidak tidur dan merayu banyak teman. Mereka membuka jalan, dan tiket didapatkan.

“Tiket ke KL dan Krabi, dapat. Kodenya di sms ya. Krabi, gantinya Phuket. Kalian bisa naik bis dari sana.”

Kami serahkan pada Tuhan. Mudah segalanya, bila Dia mengaturnya demikian.

-0-

Bandara KL tak sepi. Kami ngobrol soal demo, lalu HP-ku berbunyi. Penyeliaku menghubungi.

“Sedang dimana kamu sekarang?”

Langsung pada intinya. Ia memang begitu biasanya.

“KL. Transit ke Krabi dan Bangkok. Ada apa ya?”

“Kami ingin kamu di Lampung. Kamu harus di pabrik saat audit mutu. Bisa kamu balik sekarang?”

Kalimat sederhana dan mudah dicerna. Tapi isinya bagai geledek terang, tanpa awan, tanpa hujan. Ini permintaan gila. Aku dapat cuti darinya. Audit sudah direncana sejak lama.

“Aku harus ke Bangkok dulu. Ini sudah boarding. Aku email nanti setelah tiba.”

-0-

Kami menyewa van dari Krabi. Tiba di apartemen teman saat pagi. Aku kirim email untuk penyelia pemberi cuti.

Aku tak penuhi permintaannya. Resikonya adalah phk. Aku akan sedih bila mengalaminya. Tapi kini kami harus siaga. Panggilan Tuhan, siapa bisa duga.

Saat menunggu, kami berdoa. Kami yakin ada jalan bagi semua. Hela napas adalah doa. Aliran darah adalah labbaik pada panggilan mulia. Aku datang dengan kaki pincang.

Menjelang sore, kami menerima pesan mendebarkan.

“Mohon bersiap. Setelah magrib, kumpul di Islamic Center. Naik bis ke Phuket, lalu ke Jeddah. Semoga mabrur.”

Air mata tak habis menyungai di pipiku. Tak cukup badan ini bersujud sendu. Tenggelam di bumi dan sirna, terasa syahdu. Inilah kepasrahan dan keberserahdirian tanpa ragu.

Kuhirup setiap langkah sunyi. Di tanah suci, kutemui ayat amat berarti.

“Dan barang siapa mengerjakan kebajikan sedang dia (dalam keadaan) beriman, maka dia tidak khawatir akan perlakuan zalim (terhadapnya), dan tidak (pula khawatir) akan pengurangan haknya.”

Skenario di balik skenario. Tuhanlah pembuat skenario terbaik. Aku bertemu sahabatku di dekat masjid suci. Dialah pendorong niat haji. Bagaimana ini bisa terjadi, kecuali ada Maha Sutradara dibalik semua yang kualami.

Semut pincang akhirnya berhaji.-

Sekolah Pohon (Guru dari Surga)

Sinopsis Novel Baru

Tadinya ia menyangka berhaji adalah puncaknya ibadah, sebuah pertemuan teragung dengan Tuhan Maha Pengasihnya. Tetapi sebagaimana nabi mulia yang dirindukannya, kembali setelah perjalanan menemui Sang Pencipta, ia juga harus kembali bertemu dengan masyarakatnya.

Ia tak punya cita-cita mulia, kecuali mengikuti ide dan saran-saran orang-orang sekitarnya, untuk memulai sebuah proses belajar bagi anak-anak miskin sekitar rumahnya. Itulah sebuah proses belajar sederhana, dengan guru-guru dari anak, istri dan temannya, dan tempat belajar awal di dekat pondok gardu di bawah pohon. Itulah cikal sekolah pohonnya.

Anak-anak muda berjibaku membantunya. Rache, Farra, Adi dan Arjuna, saling bertukar peran mengajar. Sekalipun mereka punya masalahnya sendiri. Mereka punya drama kehidupannya yang teranyam dalam perjalanan sekolah itu. Mereka punya cinta dalam kisah-kisahnya. Tapi mereka tak lelah membangun sekolah baru itu, sebagaimana tertatihnya langkah adik bayi. Orangtua adalah penyokong terbaik untuk sebuah kerja penuh cinta.

Anak-anak murid selalu punya jalan untuk berkarya dan menunjukkan jati dirinya. Hasan dan Rosa mewakili Sekolah Pohon dalam lomba yang pertama kali diikuti. Sekalipun mereka gulana, itu tak menyurutkan semangat luar biasa dalam dada mereka. Pada mereka itulah, pintu-pintu kelanjutan sekolah ini bersandar, apakah akan ada jalan lanjutan, atau tutup di tengah jalan.

Semua Karena Cinta

: Mahakam Six 88

Sececap madu di ujung lidah yang meresap dalam kalbu
adalah untaian lagu mengalun sendu penuh rindu
pada pertemuan beberapa masa lalu

Aku akan kembali
Menemuimu sendiri
Dalam hari sunyi sepi
Ditemani awan menari-nari

Bukannya aku lupa pada jendela yag menembus angan menari-nari
Bukankah kamu yang menutupnya saat bersiap pergi
Bukannya aku lupa pada jejak kaki yang membekas di pasir hati
Bukankah kamu yang menghapusnya berkali-kali

Bukannya aku lupa pada embun yang menitiki dini
Bukankah kamu yang menguapkannya bagai mentari
Bukannya aku lupa sorak sorai dalam gemerlap pesta tari
Bukankah kamu yang duduk hening dan diam menepi

Bukannya aku lupa pada senyum dan tawa yang mengalirkan jingga
Bukankah kamu yang menukarnya dengan air mata tak tergantikan bahagianya
Bukannya aku lupa sahabat yang menanam kebajikan di sela bebatuan penuh mara
Bukankah kamu yang tak menyebutkannya dalam setiap cengkerama

Semua karena cinta bermandikan api
Bukannya aku lupa pada hujan pagi tadi
Bukankah kamu yang menghangatkan hati ini.-563037_10201292741194854_1384609622_n

Doa-doa

Duh, Allah Penguasa siang malam dan diantara keduanya, semoga Engkau berikan kami bening hati, untuk dapat membedakan baik dan buruk, pada masa segalanya samar dan abu-abu.

Duh, Allah Penggenggam semua jiwa, Yang menghidupkan dan mematikan, semoga Engkau segarkan pikiran kami, untuk mampu mengalirkan sedikit dari ilmuMu yg terhamparkan di semestaMu.

Duh, Allah, yang tak seelektron pun terlontar tanpa sepengetahuanMu, yang tak sebersit rahasia dalam dada tanpa Engkau pahami selalu, yang tata kelola ciptaanMu adalah perpaduan kelindan yang hanya teruraikan oleh hukumMu, semoga Engkau izinkan kami untuk mengerti segala ketentuanMu dan memahami setiap garis halus takdirMu.

Duh, Allah, Penguasa langit, bumi dan semesta ini, yang tasbih kami bahkan tak menyentuh kebesaranMu, sujud kami tak cukup mengagungkanMu. Embun kami menantang matahari agar memahami cahayanya dan mampu mengatasi panasnya. Sejukkanlah itu baginya, agar ia bisa melewati pagi, dan meraih awan, yang turun ke bumi sebagai rahmat bagi seluruh alam, yang bisa menghidupkan bumi sesudah matinya.

Duh, Allah, disisiMu kami bagai membeku, juga berjumpa rasulMu kami merindu pilu. Limpahkan sehat, jauhkan segala penyakit dan bala. Bukakanlah bagi kami beragam ilmu, agar makin rendah hati si fana diri dalam perjalanan kesementaraan ini.

Duh, Allah, kabulkanlah doa-doa kami sebagai bagian dari sedikit rahmatMu yg tak terbayangkan bagi kami.

Salawat dan salam bagi rasulullah saw.
Alfatiha. Amin….

Katanya Ramadhan

Katanya Ramadhan, kita menahan lapar
Lalu kita mengumpulkan makanan seharian
agar bisa menikmatinya saat berbuka sampai kenyang menggelepar

Katanya Ramadhan, kita menahan dahaga
Lalu kita pisahkan dalam satu meja berbagai penyegar kerongkongan
agar bisa terdinginkan seluruh pencernaan sampai puas tak berhingga

Katanya Ramadhan, kita menahan nafsu
Lalu kita alihkan segala mata memandang, dan menyimpannya dalam angan
agar bisa disembunyikan diam-diam, tersimpan pilu dalam gejolak membisu

Katanya Ramadhan, kita menahan keinginan
Lalu kita kumpulkan urutan belanja yang disiapkan sejak pertama puasa berjalan
agar bisa kita miliki semua sampai sekecilnya, lalu kita susun lagi segala perbendaharaan

Katanya Ramadhan, kita meningkatkan iman
Lalu kita tunjukkan pakaian suci, sarung rapi dan peci haji dalam setiap langkah jalan
agar bisa kita pertunjukkan sujud-sujud dan untaian doa-doa yang melenakan

Katanya Ramadhan, kita meningkatkan takwa
Lalu kita sedekahkan sekedar sesuai batasan angkanya, dan kita simpan sebagian besarnya
agar kita bisa merencanakan hidup yang lebih bermakna, dengan harta dimana-mana

Katanya Ramadhan, saatnya diam tapa barata
Lalu kita habiskan waktu kita untuk menonton saja, segala acara televisi di depan mata
agar kita bisa tertawa-tawa sepuasnya, dan lupa, hanya kepada Tuhan, tempat kembali kita.-

Baru Saja

Gambar

   
: Untuk BDP-25 IPB

Peluh melekat seakan baru saja
Kita lelah menggali tanah untuk menanam harapan dan cita-cita
Senyum membayang seakan baru saja
Kita duduk dalam kelas berhias canda dan celoteh suka cita
Tawa mengiang seakan baru saja
Kita gembira bagai anak-anak dengan permainan barunya

Terpisah sekian lama, sekian jeda, sekian rona, sekian dunia
sekian kerinduan, sekian kekecewaan, sekian cinta
Seolah gambar bergerak dari masa-masa itu, lalu terhadirkan begitu saja

Potret-potret tua kita berbagi tempat, berbagi lena, berbagi air mata
tak henti-hentinya bercerita bagaikan putri terkasih kita pulang sekolah
dan bicara tiada hentinya, semua kisah yang ia dapatkan dengan para sahabatnya

Siapa hendak mengetahui dirinya, kenalilah teman-temannya
Karena demikianlah, kita merajut helai demi helai kasih sayang dari Sang Maha
Semoga.-

Gempa dan Kedatangan Al Mahdi

Utusan Tuhan, manusia terkasih itu (Muhammad saw) bersabda :

“Aku kabarkan berita gembira mengenai Al-Mahdi, yang diutus Allah ketengah ummatku ketika banyak terjadi perselisihan antar-manusia dan gempa-gempa. Maka ia akan memenuhi bumi dengan keadilan dan kejujuran, sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kesewenang-wenangan dan kezaliman.”

Berikut data gempa dan grafiknya dalam 30 tahun terakhir. Data diambil dari http://earthquake.usgs.gov/earthquakes/eqarchives/year/graphs.php

Skala gempa dikelompokkan dalam 3 kekuatan Skala Richter (SR), yaitu

– Kelompok 6.0 – 6.9 SR

– Kelompok 7.0 – 7.9 SR

– Kelompok 8.0 – 9.9 SR

Rentang waktu dikelompokkan dalam 4 dekade, yaitu

– Periode 1980 – 1989

– Periode 1990 – 1999

– Periode 2000 – 2009

– Periode 2010 – 2019 (data angka merah pada tabel, diperkirakan secara regresi linier, dari data 3 dekade sebelumnya)

Jumlah gempa meningkat secara linier setiap 10 tahun. Ini terlihat pada tabel berikut.

Gambar

Peningkatan jumlah gempa dapat terlihat pula dengan menggunakan grafik, yang ternyata bisa terbentuk sebagai garis lurus, terutama pada total jumlah gempa dan kelompok 6.0 – 6.9 SR. 

Gambar

Sedangkan pada kelompok 7.0 – 7.9 SR dan 8.0 – 9.9 SR, kenaikan frekuensi juga terjadi, tetapi tidak linier sempurna, sebagaimana terlihat pada 2 grafik berikut.

Gambar

Gambar

Nah sobat semua, kita mesti bersiap dengan sebaik-baiknya, untuk menyambut kedatangan pemimpin yang ditunggu-tunggu oleh orang-orang beriman (mukmin), muslim dan para ahli kitab.

Hanya Allah swt saja yang mengetahui segala yang gaib. Kita hanya perlu menunggu dengan kerendahan ilmu, memohon perlindungan dari kejahatan mahluk-Nya, dan semoga kita diberi petunjuk untuk selalu berada di jalan yang diridhoi-Nya. Salawat dan salam untuk Sayidina Muhammad saw.

Semoga…